Arsip untuk Kategori 'Marketing'

19
Jan
10

Singapore Airlines

Berikut ini adalah pertanyaan dan jawaban dari tugas tentang Singapore Airlines yang Shine kerjakan waktu masih kuliah tahun 2007,  semoga masih relevan dan dapat menjadi referensi bagi teman-teman :)

1.   Apa sajakah kunci sukses untuk SIA?

Kunci sukses SIA adalah:

  • SIA menggunakan Singapura sebagai satu hub (pusat jaringan) raksasa, dengan jaringan kota-kota di negara-negara sekitarnya. Lebih luas jaringannya, maka akan lebih efektif sistem hub ini, dan sehingga akan lebih mudah untuk membujuk penumpang (misal, dari Sydney) untuk terbang memakai SIA ke beberapa kota tujuan di Eropa melalu Singapura.
  • SIA menetapkan tarif yang rendah untuk para penumpang transit untuk membuat pengalaman transit mereka di Singapura menyenangkan.
  • SIA menekankan pada budaya kesempurnaan dan sangat konsisten pada jasa pengantaran dan janji brand-nya. Simbol dari SIA adalah Singapore Girl-nya (pramugari) yang dikenal dengan servisnya yang sempurna dan baik. Brand Image dari Singapore Girl adalah hangat, tulus, dan kepribadian yang menarik.
  • SIA mengoperasikan armada pesawat yang paling baru dan modern, sehingga menghasilkan ketepatan waktu dan keamanan bagi para penumpang.
  • Teknologi terbaru yang dipakai tidak terbatas pada armada pesawatnya, tetapi juga pada hiburan selama penerbangan. Bahkan di kelas ekonomi pun, penumpang diberi fasilitas audio dan video dengan hampir 200 pilihan hiburan.
  • Inovasi servis yang disertai dengan branding yang kuat. Kelas Bisnis dari SIA di-branded­-kan sebagai Raffles Class, program Frequent flier-nya  sebagai KrisFlyer, majalah selama penerbangannya sebagai silver kris, daerah menunggu diairport  dengan nama silver kris lounge dan hiburan selama penerbangannya dengan kris world. Sedangkan untuk penumpang kelas satunya ditawarkan makanan kelas dunia.
  • SIA adalah jasa penerbangan pertama yang menawarkan pilihan makanan, minuman gratis, dan headphone untuk penumpang kelas ekonomi. Kelas bisnis dan kelas satu dapat memesan makanan dan akan dibuatkan secara khusus.
  • Tidak seperti jasa penerbangan lainnya, SIA melakukan perbaikan terhadap kabinnya secara berkala.
  • Selama Asia berada dalam keadaan krisis ekonomi, SIA melakukan investasi sebesar 100 juta dollar pada Space beds, yaitu sebuah fasilitas yang menyediakan penumpang kelas bisnis dengan tempat duduk yang bisa diturunkan hampir mencapai 180 derajat.
  • Bahkan beberapa waktu lalu, SIA sebagai jasa penerbangan pertama ang memakai pesawat A-380. Pesawat berkapasitas 500 sampai 600 orang ini memungkinkan SIA untuk menerbangkan lebih banyak penumpang tanpa menambahkan frekuensi penerbangan sehingga mengurangi masalah pendaratan pada airport yang padat seperti Heathrow dan Narita.

 

2.      Di sisi mana SIA paling lemah (rawan)? Apa sajakah hal-hal yang harus SIA waspadai?

Sisi SIA yang paling lemah (rawan):

  • Ketergantungan SIA kepada lalu lintas penumpang sixth-freedom memberi efek yield revenue SIA sebagai yang terendah di antara jasa penerbangan besar lainnya. Hal tersebut dikarenakan SIA harus menetapkan tariff yang rendah untuk para penumpang transit untuk membuat pengalaman transit mereka di Singapura menyenangkan, sehingga akan menarik penumpang untuk melakukan transit di Singapura.

Hal-hal yang harus SIA waspadai:

  • SIA biasanya bertumbuh dengan menambah rute penerbangan yang menguntungkan, namun saat ini rute pernerbangan yang menguntungkan itu sudah dalam keadaan jenuh, dan pada keadaan ini pertumbuhan akan bisa tercapai dengan menambah frekuensi penerbangan di jalur penerbangan yang sudah ada dibandingkan dengan menambah membuat suatu rute penerbangan yang baru.
  • Meskipun SIA adalah jasa penerbangan pertama yang menerbangkan airbus yang super besar ( A-380) namun  jasa penerbangan emirates sudah memesan pesawat ini sebanyak 45 unit – terbanyak dari semua jasa penerbagan di dunia – dalam rangka melakukan ekspansi armada pesawat yang merencanakan untuk menjadikan kota Dubai sebagai pusat jaringan (hub). Saat ini Emirattes telah berhasil mengambil pangsa pasar corporate travelers yang sebelumnya memakai jasa British Airways. Dan bahkan saat ini mengincar pasar dengan pertumbuhan tinggi seperti Cina.
  • Kemunculan dari jasa penerbangan yang low-cost seperti Air-Asia dan Jetstar Asia menyebabkan SIA terdesak, dan memaksa terjadinya tekanan harga tiket terutama untuk rute-rute jarak dekatnya.
  • Ancaman jangka panjang adalah munculnya China Airlines. Air china sedang menaikkan servis di kelas bisnis dan kelas satunya pada rute-rute internasionalnya, dan ada spekulasi mengenai rencana Air China untuk mengakuisisi Cathay Pacific. Jika ini terjadi, maka Air China akan menjadi salah satu dari jasa penerbangan terbesar di dunia.

 

3.      Rekomendasi apa yang anda buat kepada para eksekutif marketing senior ke depan? Dan apa saja yang sebaiknya mereka harus lakukan pada strategi marketing mereka?

  • Jasa penerbangan sixth-freedom merupakan salah satu kunci sukses SIA. Akan tetapi SIA harus menetapkan tariff yang rendah untuk para penumpang transit tersebut. Untuk lebih meningkatkan yield revenue SIA pada sixth-freedom ini, SIA harus menambah kapasitas jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan, agar jumlah penumpang sixth-freedom semakin banyak.
  • Keselamatan penerbangan merupakan hal yang paling utama diperhatikan oleh calon penumpang pesawat terbang. SIA harus mempromosikan jasa penerbangan mereka dengan memberi info kepada para calon penumpang bahwa armada pesawat terbang yang mereka gunakan adalah pesawat yang paling baru dan modern.
  • Untuk menghadapi persaingan dari jasa penerbangan yang low-cost seperti Air Asia dan Jetstar, sebaiknya SIA membuat suatu divisi penerbangan baru hanya untuk rute jarak dekat dengan harga tiket yang juga low-cost.
  • SIA harus secepatnya mengadakan ekspansi ke Cina dengan memasuki pasar Cina sebelum Emirates terlebih dahulu masuk ke Cina, dan sebelum China Airlines mengakuisisi Cathay Pasific.

SIA harus meningkatkan servisnya pada kelas bisnis dan kelas satunya pada semua rute penerbangan untuk merebut pangsa pasar dari British Airways, Emirates, dan China Airlines. .

14
Mar
09

Taman Akuarium Air Tawar TMII

Tahun 2007 yang lalu, Shine dan teman-teman diberi tugas oleh dosen untuk mengunjungi tempat-tempat wisata tertentu sebagai bahan ujian tengah cawu mata kuliah Manajemen Pemasaran. Beberapa tempat yang dapat dijadikan pilihan antara lain adalah Sea World Ancol, Ocean Park BSD, dan Taman Akuarium Air Tawar (TAAT) TMII. Shine dan beberapa teman-teman lain akhirnya memilih TAAT TMII karena selain ga jauh dari rumah Shine, tiket masuknya juga murah ^^.

tmii-akuarium

Sebelum melakukan investigasi lebih lanjut, kita ‘berperilaku’ layaknya pengunjung disana dengan melihat semua jenis akuarium dan ikan yang ditampilkan. Tak lupa juga kita foto-foto layaknya turis lokal, hehe.. sayang fotonya masih di Irwan, Shine lupa terus minta foto-fotonya. Setelah foto-foto, kita agak bingung nih gimana mau cari informasi lain tentang akuarium air tawar, secara humasnya klo ga salah lagi ga ada hari itu.

Jadilah kita semua berinisiatif nanya-nanya pegawai-pegawai di situ seputar TAAT ini. Berhubung pegawainya laki-laki semua n teman-teman Shine yang ikut kesana juga laki-laki semua, pegawainya pertama-tama ga mau ngasih info macem-macem gitu sama temen-temen Shine. Jadilah akhirnya Shine sebagai yang paling ‘cantik’ disana (kekekekk.. emang cewek sendiri!) kebagian tugas untuk mengulik lebih lanjut pengetahuan pegawai disana dengan wawancara lebih mendalam.

Hasilnyaaa… gak mengecewakan dong! Dengan modal murah meriah, kita yang memilih lokasi penelitian di TAAT TMII rata-rata mendapat nilai bagus, Shine juga dapat nilai 100 lowwhh! ^o^

Ini dia sekelumit hasil penelitian kami:

 

TAMAN AKUARIUM AIR TAWAR – TMII

 

1.      Pada saat Taman Akuarium Air Tawar (TAAT) didirikan, mereka belum menetapkan segmentasi yang jelas. Setelah TAAT dibuka beberapa lama dan data dikumpulkan, barulah mereka menganalisis segmen-segmen pasar. Jadi, TAAT menggunakan pendekatan post-hoc dalam menentukan segmentasi pasarnya. Berikut ini adalah segmentasi yang akhirnya diambil oleh TAAT:

·         Geographic : Taman Akuarium Air Tawar (TAAT) didirikan di Jakarta, tepatnya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tujuan TAAT didirikan di TMII Jakarta adalah untuk menjaring jumlah pengunjung yang lebih banyak, karena hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenal TMII.

·         Demographic :

Age: 4-70 tahun (mayoritas adalah anak-anak usia sekolah terutama anak-anak TK dan SD, ada juga rombongan dari panti jompo yang pernah berkunjung ke TAAT)

Family Size : Orang tua dengan 1 atau lebih anak, karena banyak orang tua yang menemani anak-anaknya rekreasi ke TAAT.

Gender : perempuan dan laki-laki

Social Class : Kelas sosial masyarakat yang berkunjung ke TAAT adalah B+ (menengah bagian atas), B (menengah bawah), dan C+ (bawah bagian atas), karena harga tiketnya yang murah (Rp. 10.000 per orang).

Occupation : pelajar (untuk pendidikan dan rekreasi), peneliti (untuk observasi)

Education : siapa saja, tapi 60% dari jumlah pengunjung adalah anak-anak TK sampai SMU. Anak SMU dan mahasiswa menyukai ikan-ikan yang akan digunakan untuk bahan penelitian.

Nationality : kebanyakan adalah turis lokal, ada juga yang berasal dari luar negeri seperti dari Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa, tapi jumlahnya sedikit sekali.

·         Psycographic :

Lifestyle : TMII identik dengan tempat hiburan yang menawarkan konsep edutainment melalui pengenalan kekayaan budaya Indonesia. Begitu juga dengan TAAT yang menggunakan rumah-rumah adat sebagai bentuk dari akuarium standing-nya sesuai dengan asal ikan (catatan: bentuk akuarium dengan atap rumah adat ini baru dibuat 3 tahun yang lalu). Oleh karena itu pengunjung TAAT kebanyakan bersifat culture-oriented.

·         Behavioral :

Occasion : Selain rombongan dari sekolah yang biasanya berkunjung pada hari-hari biasa, pengunjung lain biasanya dating ke TAAT pada saat event-event tertentu, seperti liburan sekolah, hari raya, 1 suro, tahun baru, dan hari kemerdekaan.

Benefits : Pengunjung memilih mengunjungi TAAT karena harga tiket yang murah, dan karena TAAT merupakan satu-satunya Taman Akuarium Air Tawar di Indonesia, dan nomor 2 terbesar di dunia. Mereka dapat mengenal jenis-jenis ikan air tawar terutama dari Indonesia dan beberapa dari negara lain dan dapat melihatnya secara dekat.

User Status : Biasanya anak-anak yang berkunjung kesini baru pertama kali, sedangkan orang-orang dewasa yang mengantarkan anak-anak rata-rata merupakan kunjungannya yang kedua atau lebih.

Usage Rate : rata-rata merupakan light-user, karena mereka jarang sekali berkunjung ke TAAT.

Loyalty Status : menurut saya, apabila pengunjung tersebut bukan merupakan peneliti, mereka kurang tertarik untuk berkunjung kembali ke TAAT.

Readiness Stage : Karena kurangnya promosi yang dilakukan oleh TAAT, maka banyak sekali masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan TAAT. Mereka hanya mengetahui TMII, dan saat di TMII barulah mereka tahu ada TAAT disana (unaware, yang aware hanya sedikit sekali).

Attitude Toward Product : Anak-anak kecil yang berkunjung ke TAAT biasanya sangat antusias, berbeda dengan orang dewasa yang terlihat kurang antusias.

 

  2.      Marketing mix (bauran pemasaran)

Product : Taman Akuarium Air Tawar-TMII Jakarta bertemakan “Indonesia dan Dunia Air Tawar”, memperagakan akuarium air tawar geografik, yang menyajikan simulasi dan replikasi dari ekosistem lahan basah alam asli dan ragam hayatinya. Dengan replika ini diharapkan terciptanya sarana yang dapat memberikan citra atas perairan Nusantara. TAAT adalah satu-satunya Taman Akuarium Air Tawar yang ada di Indonesia. TAAT juga merupakan Taman Akuarium Air Tawar terbesar ke-2 di dunia setelah Amerika. 

TAAT didirikan di atas lahan seluas 5.500 m2 terdiri dari 21 akuarium dinding, 50 lebih akuarium lepas, auditorium (sebagai ruang serbaguna dan tempat pemutaran film documenter tentang kehidupan ikan air tawar), pustaka flora dan fauna, serta museum (berisi ikan-ikan yang diawetkan). TAAT mempunyai sekitar 155 spesies (sudah termasuk spesies-spesies ikan, belut, udang, kura-kura, dan tumbuh-tumbuhan).

Price : Harga tiket sangat murah, yaitu Rp. 10.000 per orang.

Place (distribusi) : TAAT tidak mempunyai penyalur khusus untuk menambah jumlah koleksi ikannya. Ikan-ikan tersebut biasanya merupakan sumbangan dari Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), hobbies, dan pemerintah-pemerintah daerah.

Promotion : TAAT tidak melakukan promosi secara besar-besaran. TAAT biasanya hanya membuat iklan di media Warta Kota, Pos Kota, dan majalah Samudera. TAAT juga melakukan strategi “jemput bola”, yaitu dengan melakukan promosi ke sekolah-sekolah. Media televisi juga secara tidak langsung berperan dalam mempromosikan TAAT. Media televisi tidak diundang oleh TAAT, tapi media televisi tersebut mengadakan liputan sendiri, biasanya pada hari-hari libur untuk membandingkan jumlah pengunjung antara suatu tempat hiburan dengan tempat hiburan lain, termasuk TAAT.

 

3.      Five Competitive Force

·         Pesaing : Pada saat TAAT dibuka, belum ada pesaing dalam core bisnis yang sama. TAAT adalah Taman Akuarium Air Tawar pertama yang ada di Indonesia.

·         Pendatang baru : TAAT yang berdiri pada 20 April 1994, menghadapi competitor baru beberapa bulan berikutnya, yaitu dengan mulai beroperasinya Sea World di Ancol pada bulan Juni 2004.

·         Produk pengganti : Sea World selain merupakan competitor pendatang baru, juga merupakan produk pengganti untuk rekreasi edutainment yang berhubungan dengan dunia bawah air.

·         Penyuplai : TAAT tidak mempunyai penyalur khusus untuk menambah jumlah koleksi ikannya. Ikan-ikan tersebut biasanya merupakan sumbangan dari Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), hobbies, dan pemerintah-pemerintah daerah.

·         Pembeli (pengunjung) : Pengunjung yang datang ke TAAT mayoritas adalah rombongan anak-anak TK dan SD. Selain itu juga ada peneliti dan mahasiswa untuk keperluan observasi, dan keluarga.

 

4.      Lingkungan pemasaran (marketing environment):

a.       Lingkungan Makro

·         Lingkungan demografis: (sama seperti nomor 1)

·         Lingkungan ekonomi: Harga tiket sangat murah, yaitu Rp. 10.000 per orang. Sehingga masyarakat dengan social class B+ (menengah bagian atas), B (menengah bawah), dan C+ (bawah bagian atas), lebih memilih berekreasi ke sana daripada tempat lainnya yang sejenis (Sea World) yang harga tiketnya lebih mahal.

·         Lingkungan natural: Berbagai spesies air tawar didatangkan langsung dari tempat asalnya, untuk kemudian dirawat, dibudidayakan, dan dipamerkan kepada pengunjung TAAT.

·         Lingkungan teknologi: Untuk membuat replika ekosistem lahan basah, digunakan atap polycarbonate, agar suhu sesuai dengan tempat asli ekosistem lahan basah di kawasan tropis.

·         Lingkungan politik-legal: Telah sejak lama para anggota PIHI (Perhimpunan Ikan Hias Indonesia) mempunyai gagasan perlu adanya sebuah akuarium air tawar. Kemudian atas restu Ibu Tien Soeharto, akuarium air tawar tersebut telah menjadi kenyataan dengan dibangunnya TAAT-TMII. Lahan TAAT diberikan oleh pemerintah, yang kemudian dalam pengoperasiaannya dilakukan secara swakelola oleh TAAT sendiri.

·         Lingkungan cultural: TMII identik dengan tempat hiburan yang menawarkan konsep edutainment melalui pengenalan kekayaan budaya Indonesia. Begitu juga dengan TAAT yang menggunakan rumah-rumah adat sebagai bentuk dari akuarium standing-nya sesuai dengan asal ikan.

b.      Lingkungan Mikro

·         Company’s Internal Environment : Bagian promosi tidak begitu aktif dan tidak percaya diri akan produknya dalam mengadakan promosi. Ketika saya akan berkunjung ke TAAT, saya menelepon ke bagian promosi, dan yang mengejutkan adalah bahwa orang di bagian promosi itu tidak antusias dan terkesan takut dengan akan kedatangan mahasiswa S2 jurusan Magister Management. Malah ia mengusulkan agar saya mencara tempat lain untuk diteliti.

·         Supplier : TAAT tidak mempunyai penyalur khusus untuk menambah jumlah koleksi ikannya. Ikan-ikan tersebut biasanya merupakan sumbangan dari Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), hobbies, dan pemerintah-pemerintah daerah.

·         Marketing Intermediaries : TAAT beroperasi secara swakelola, karena jumlah pengunjung yang tidak begitu banyak, maka TAAT tidak mampu untuk melakukan promosi.

·         Customer: Pengunjung yang datang sebanyak 60% adalah rombongan anak-anak usia sekolah, mayoritas adalah rombongan dari TK dan SD. Ada juga keluarga, orang tua yang mengantarkan anak-anaknya rekreasi ke sini, dan para mahasiswa dan peneliti.

·         Competitors: TAAT menghadapi saingan berat, yaitu Sea World, karena Sea World mempunyai desain tempat, ruangan, dekorasi, dan tata letak yang lebih menarik daripada TAAT. Hal itu disebabkan karena Sea World memiliki modal yang lebih besar daripada TAAT.

 

5.      Product Life-Cycle: Saat ini TAAT berada pada Shakeout Stage. Jumlah pengunjung yang semakin berkurang menurut saya disebabkan karena beberapa hal. Yang pertama adalah karena dekorasi atau kemasan TAAT yang tidak menarik. Pencahayaan ruangan kurang, pencahayaan akuarium (display) juga kurang menarik, tempat kotor dan kurang terawat, mascot yang tidak menarik, tidak ada brand image yang tidak menarik, dan kurangnya promosi.

07
Mar
09

Direct Marketing, Internet, Interactive Media

1.    Apa yang dimaksud dengan direct marketing? Berikan contoh.

Jawab:

Direct marketing adalah sebuah sistem pemasaran dimana pada system ini perusahaan berkomunikasi langsung dengan target konsumennya untuk  memperoleh respon atau transaksi. Respon ini dapat berupa penyelidikan, pembelian, atau bahkan pemilihan.

Sedangkan menurut Dictionary of Marketing Terms karangan Peter Bennet, direct marketing didefinisikan sebagai: Sekumpulan aktivitas dimana penjual, dalam mempengaruhi pertukaran antara barang dan jasa oleh pembeli, mengusahakan penjualan kepada target audiens menggunakan satu atau lebih media (direct selling, direct mail, telemarketing, direct-action advertising, catalogue selling, cable TV selling, dan lain-lain) yang bertujuan untuk mendapatkan respons melalui telepon, surat, ataupun kedatangan pembeli kepada penjual.

Direct marketing adalah aspek dari total marketing yaitu yang terdiri dari marketing research, segmentasi, evaluasi, dan lainnya. Direct marketing menggunakan seperangkat direct-response media seperti direct selling, direct mail, telemarketing, direct-action advertising, catalogue selling, cable TV selling, dan internet. Media-media ini adalah alat-alat yang digunakan oleh direct marketers dalam mengimplementasikan proses komunikasi.

Contoh direct marketing adalah pada saat pameran computer dan teknologi komunikasi beberapa saat yang lalu di Jakarta, Indosat menawarkan produknya yang berupa layanan internet wireless IM2 dengan cara mendirikan booth dan menyewa SPG untuk mempromosikan produknya tersebut.

 

 2.    Apa kelebihan dan kekurangan direct marketing?

Jawab:

Kelebihan:

·         Selective Reach: Dengan direct marketing para pengiklan dapat menyampaikan pesan komunikasi IMC kepada sejumlah besar orang dan sekaligus mengurangi non target audiens.

·         Segmentation capabilities: pengiklan dapat membeli daftar/list berisi informasi mengenai produk-produk yang terakhir dibeli oleh konsumennya. Dari daftar ini, dapat diketahui segmentasi berdasarkan letak geografis, pekerjaan, dan demografi.

·         Frequency: Tergantung kepada media yang digunakan, pengiklan dapat mengatur level frekuensi jumlah iklan yang ingin disampaikan.

·         Flexibility: Direct marketing dapat dilakukan melalui berbagai jenis bentuk media.

·         Timing: Beberapa direct marketing membutuhkan waktu yang cukup singkat untuk dilakukan.

·         Personalization: dengan menggunakan direct media pesan yang disampaikan dapat dikustomisasi untuk konsumen yang dituju.

·         Costs: Beberapa direct media tidak membutuhkan biaya yang banyak.

·         Measures of effectiveness: Dengan direct media, feedback dapat diperoleh langsung dari konsumen.

 

Kekurangan:

·         Image factors: Terkadang media yang digunakan pada direct marketing tidak mencerminkan image dari perusahaan yang beriklan.

·         Accuracy: Tingkat ketepatan daftar yang digunakan untuk menunjuk target market yang dituju terkadang terlalu rendah, karena daftar yang digunakan tidak sesuai dengan target market yang disasar oleh perusahaan.

·         Content support: Isi yang dimuat di media yang digunakan untuk beriklan belum tentu sesuai dengan isi yang ingin kita disampaikan.

·         Rising costs: Semakin lama harga-harga untuk iklan yang menggunakan media direct mail makin mahal, sehingga banyak yang beralih menggunakan media internet.

           

3.    Bagaimana penggunaan internet sebagai media komunikasi dilihat dari sisi konsumen?

Jawab:

Internet dengan berbagai aplikasinya, seperti Web, VoIP, e-mail pada dasarnya merupakan media yang digunakan untuk mengeffisienkan proses komunikasi. Pada dasarnya manusia lebih tertarik untuk berdiskusi atau komunikasi dua arah, dan mencari informasi yang spesifik untuk keperluan diri-nya saat itu. Manusia pada dasarnya tidak terlalu tertarik untuk mencari informasi diluar dari apa yang dia sukai / butuhkan.

 

4.    Bagaimana perilaku konsumen indonesia dalam menggunakan internet sebagai media komunikasi dan konsumsi?

Jawab:

Menurut artikel di Vibiznews.com, salah satu karakter unik konsumen Indonesia adalah gaptek (gagap teknologi). Ada beberapa lasan mengapa karakter tersebut berkembang pada konsumen Indonesia:

Pertama, konsumen Indonesia mayoritas berpendidikan rendah. Sehingga hal ini menjadikan mereka tidak melek teknologi dan tidak terbiasa dengan produk berteknologi tinggi.

Kedua, persepsi bahwa teknologi tinggi keamanannya tidak terjamin. Misalnya masyarakat khawatir bahwa jika melakukan transaksi mobile banking, maka rekening mereka bisa dijebol.

Karakter ini menghasilkan dampak bagi penetrasi internet di Indonesia. Penetrasi internet di Indonesia termasuk lambat, yaitu baru sekitar 8%. Persentase ini lebih rendah dari rata-rata penetrasi internet di Asia, yakni sekitar 10,7%.

07
Mar
09

Perilaku Konsumen (Part I)

Jelaskan mengenai brand community dan mengapa hal ini penting bagi pemasar

Menurut buku Solomon, brand community adalah sekelompok customer yang saling mempunyai social relationship tertentu berdasarkan produk yang mereka gunakan atau ketertarikan pada suatu produk. Anggota dari brand community ini biasanya tidak tinggal dekat satu sama lain, tetapi biasanya mereka bertemu atau dipertemukan pada suatu event dari produk tersebut atau disebut juga brand fest.

Titik kritis dari program ini adalah seberapa jauh perusahaan dapat mengelola kontak yang terjadi antara pelanggan dengan mereknya,  pelanggan dengan produk/layanan ketika digunakan, dan di antara para pelanggan itu sendiri.

Salah satu bentuk kegiatannya yang paling sering dilakukan adalah mengundang para pelanggan untuk menghadiri suatu event yang tentu disponsori oleh perusahaan pemilik atau penjual merek. Misalnya seperti yang dilakukan oleh jaringan buku QB World Book yang mengundang para anggotanya untuk hadir dalam diskusi buku-buku baru atau diskusi dengan topik-topik khusus, termasuk menghadiri pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi mengenai film tersebut. Menariknya setiap partisipan selalu diberi kesempatan untuk menikmati atau mengikuti event dengan gratis.
Pentingnya brand community ini bagi pemasar adalah dari penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa program ini akan membentuk sikap positif dari partisipan terhadap suatu produk, dan sebagai hasilnya, akan meningkatkan loyalitas terhadap brand tersebut. Selain itu, anggota dari brand community ini biasanya lebih mudah memaafkan bila suatu saat ada kegagalan produk dari merek tersebut, dan juga kurang tertarik untuk pindah ke brand lain meskipun produk merek lain lebih baik.

 

Apa perbedaan antara Innovator, Opinion Leader, & Market Maven; Mengapa mereka penting bagi pemasar; Dalam kondisi bagaimanakah salah satu lebih penting relatif terhadap lainnya.

Innovator:

·         Konsumen yang merupakan pembeli awal produk baru.

·         Konsumen yang mempunyai minat yang cukup berarti pada kategori     produk.

·         Pemimpin pendapat.

·         Ciri-ciri kepribadiannya:

o   Tidak dogmatis dibandingkan dengan non innovator.

o   Mengandalkan nilai-nilai atau patokan sendiri bukan orang lain.

o   Menganut dan berminat pada kategori produk yang lebih luas.

o   Tertarik pada keanekaragaman produk (jadi, innovator lebih reseptif terhadap yang kurang mereka kenal)

·         Senang berpetualang (siap menanggung resiko)

·         Tidak loyal pada merek

·         Suka memanfaatkan penawaran istimewa dalam promosi.

·         Menggunakan produk dalam jumlah banyak

·         Suka membaca majalah yang berfokus pada minat khusus tetapi kurang suka menonton televise.

·         Mereka terlibat dalam lebih banyak kelompok social.

·         Cenderung masih muda, memiliki pendidikan formal yang lebih tinggi dan cenderung menduduki status profesi yang lebih tinggi.

 

Opinion Leader:

Yaitu orang yang memiliki pengetahuan tentang suatu produk dan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi attitude dan behavior orang lain. Opinion leader dapat mempengaruhi orang lain karena:

·         Mereka telah mengevaluasi dan menyatukan informasi tentang suatu produk secara pasti. Tidak seperti komersial endorser, opinion leader seringkali lebih dipercaya karena mereka tidak mempunyai keterikatan apapun dengan perusahaan untuk mempromosikan suatu produk.

·         Mereka cenderung aktif bersosialisasi di dalam komunitas mereka.

·         Mereka biasanya juga merupakan pembeli awal suatu produk baru.

                   Market maven:

Yaitu orang-orang yang mempunyai ketertarikan untuk secara aktif terlibat dalam diskusi suatu produk. Market maven biasanya bukan orang yang pertama kali membeli produk tersebut, mereka lebih suka mencari tahu produk tersebut dan mengamati apa yang akan terjadi di pasar. Ciri-cirinya:

·         Senang memperkenalkan merek dan produk baru kepada teman-temannya.

·         Suka membantu orang lain untuk memberikan informasi tentang suatu produk.

 

Jelaskan bagaimana pemasar menggunakan konsep conformity dalam memasarkan produknya

Conformity adalah perubahan pada keyakinan dan tindakan sebagai reaksi terhadap tekanan grup atau komunitas mereka. Anggota-anggota dari grup ini biasanya mempunyai norma-norma sendiri yang mempengaruhi behavior mereka.

Faktor-faktor yang mempengaruhi conformity:

·         Cultural pressure

·         Fear of deviance

·         Commitment

·         Group unanimity, size, and expertise

·         Susceptibility to interpersonal influence

13
Feb
09

Creativity of L’occitane Print Ad

 

Print Ad L’occitane

            Untuk memperkenalkan produknya, L’occitane memang tidak pernah mengiklankannya melalui media televisi. Tetapi, iklan L’occitane berbentuk print ad dapat dengan mudah kita temui di majalah-majalah wanita. Penulis menemukan salah satu print ad L’occitane di majalah Cosmopolitan. Penulis yang memang telah 2 tahun belakangan berlangganan majalah ini, setelah mengobarik-abrik kembali koleksinya, menemukan 2 versi iklan L’occitane. Satu print ad dari majalah edisi beberapa bulan sebelumnya yang penulis analisis kurang kreatif, dan satu lagi dari majalah edisi terbaru, yaitu Juni 2008 yang penulis analisis termasuk iklan yang kreatif.

            Mengapa salah satunya penulis sebut kreatif dan yang satu lagi penulis tidak sebut kreatif? Berikut analisis dari penulis:

Print Ad L’occitane yang Kreatif

l'occitane Delightful Shape

            Kreatifitas didefenisikan sebagai “Kualitas yang dimiliki seseorang untuk membuat pendekatan yang baru di dalam suatu situasi, yang merefleksikan solusi-solusi yang baru dan yang telah dikembangkan untuk suatu masalah”. Di dalam IMC, kreatifitas ini dapat diartikan sebagai kemampuan seorang marketer untuk membuat suatu informasi dalam rangka memperkenalkan produknya kepada konsumen dengan cara dan sudut pandang yang sama sekali berbeda dari produk-produk lain yang sejenis untuk membuat suatu diferensiasi dalam iklan tersebut sehingga nantinya akan dapat menarik perhatian target market-nya untuk lebih memberikan perhatian pada produk di dalam iklan tersebut.

            Ketika akan membuat suatu iklan yang kreatif, marketer harus menetapkan strategi kreatif dari iklan tersebebut. Strategi kreatif ini adalah “apa pesan dari iklan tersebut yang akan dikomunikasikan”. Setelah menjawab pertanyaan tersebut, kemudian marketer dapat menyusun taktik kreatif yang harus dapat menjawab pertanyaan “bagaimana strategi untuk menyampaikan pesan itu dilaksanakan”.

            Brand L’occitane yang memang sedari awal berdiri memposisikan dirinyanya sebagai penyedia produk kecantikan dengan menggunakan bahan-bahan yang alami, berusaha untuk tetap mengingatkan konsumen akan hal tersebut yang menjadi kelebihannya, dengan selalu memasukkan unsur-unsur alam ke dalam setiap produknya. Tak terkecuali dengan print ad yang telah penulis lampirkan pada halaman sebelumnya. Produk L’occitane tersebut terbuat dari bahan alami, yaitu protein almond, minyak esensial, peppermint, dan palmarosa, yang tercantum pada body copy di bagian bawah iklan. Bila hanya body copy saja yang dicantumkan, tentunya tidak akan menarik perhatian konsumen yang cenderung melewati iklan yang terlalu banyak tulisan tanpa image yang menarik dan mudah dimengerti. Untuk lebih menarik, iklan ini menampilkan gambar ranting pohon almond beserta tentu saja buah almondnya.

            Iklan L’occitane di atas, adalah produk krim gel bernama “Delightful Shape” yang berfungsi sebagai penghalus dan pembentuk tubuh. Dalam body copy-nya dijelaskan bahwa produk ini bermanfaat untuk membentuk tubuh dengan membuat kulit tampak lebih kencang, serta mengatasi selulit. Yang menarik dari iklan ini yang membuat penulis berkesimpulan bahwa iklan ini kreatif ketika pertama kali melihatnya, adalah gambar produk yang diikat di sela-sela 2 ranting almond sehingga membentuk siluet tubuh (pinggang) perempuan yang langsing. Produk “Delightful Shape” ini tidak seperti produk sejenis lainnya yang biasanya memakai model wanita bertubuh langsing sempurna dengan pinggang dan pinggul yang berlekuk indah. L’occitane berhasil membuat iklan yang efektif dengan langsung menggabungkan fungsi “Delightful Shape” sebagai gel pembentuk tubuh, sekaligus mengkomunikasikan bahwa produk ini terbuat dari bahan alami, yaitu ekstrak almond, dengan cara membentuk ranting-ranting almod tersebut sedemikian rupa dengan diikatkan pada produk sehingga membentuk siluet pinggang wanita bertubuh langsing.

            Ternyata, iklan L’occitane tidak selalu kreatif. Ketika penulis membuka-buka koleksi majalah lama, penulis menemukan versi iklan L’occitane yang biasa-biasa saja.

 

Print Ad L’occitane yang Kurang Kreatif

l'occitane eye balm

            Produk L’occitane di atas adalah “Immortelle Eye Balm” yang berfungsi untuk mengurangi kantung mata, lingkar hitam, serta tanda-tanda kelelahan pada mata. Iklan ini mengkomunikasikan bahwa produk “Immortelle Eye Balm” mengandung ekstrak minyak esensial dari bunga Immortel, yang ditunjukkan dari body copy di bagian atas, serta gambar bunga-bungan Immortelle di sekeliling produk.

            Produk-produk L’occitane memang konsisten dalam membuat print ad produknya dengan tidak menampilkan model manusia sebagai endorser. Tetapi, menurut penulis print ad ini sama sekali tidak menarik dan kreatif karena beberapa hal sebagai berikut:

  • Tidak jelas apakah ini produk ini untuk seluruh wajah ataupun hanya untuk bagian di sekitar mata. Karena pada body copy dikatakan bahwa produk ini merupakan rangkaian produk perawatan wajah, sedangkan pada produknya tertulis bahwa ini adalah eye balm.
  • Hanya menampilkan foto produk dan gambar bunga, tidak ada sesuatu yang istimewa… Tidak menangkap hubungannya dengan manfaatnya bagi kecantikan wanita akan mata yang lebih indah.
  • Mungkin yang akan menarik perhatian konsumen hanya tulisan “Best Seller” pada bagian kanan produk.
  • Nyatanya, karena produk-produk L’occitane mempunyai harga yang premium dan mempunyai pesaing dekat, yaitu The Body Shop yang menawarkan produk yang hampir sama dengan harga yang lebih murah, L’occitane harus mempertegas kelebihan dan “kedahsyatan” manfaat produk “Immortellw Eye Balm” ini melalui iklan yang lebih kreatif dan mengena.
18
Jun
08

Target Market Coca-Cola Zero

Cerita TVC Coca-Cola Zero

            Dalam iklan tersebut ada 2 orang anak muda dengan gaya bahasa khas anak muda masa kini, sebut saja yang pertama adalah “Mas Gondrong” dan yang kedua adalah “Mas Keren”. Mereka berdua bepergian bersama menggunakan mobil. Mas Gondrong mampir di toko di pinggir jalan sementara Mas Keren menunggu di dalam mobil. Setelah Mas Gondrong kembali ke mobil, ia memberikan sebotol Coca-Cola kepada Mas Keren. Mas Keren yang sedang menyetir mobil, meminumnya tanpa melihat merek minuman tersebut kemudian berkata, “Thank’s Coca-Cola-nya ya!”.

            Mas Gondrong menyahut, “Itu bukan Coca-Cola”, yang segera dibantah oleh Mas Keren, “Maksud loe ini bukan Coca-Cola? Rasanya Coca-Cola”. Mas Gondrong berkata lagi, “Iya, emang rasa Coca-Cola, tapi zero sugar.”. Mas Keren menengok ke Mas Gondrong, “Zero apa??? Gak mungkin!”. Karena Mas Keren tidak memperhatikan jalan, maka mobil mereka jatuh ke jurang. Setelah jatuh dan mobil mereka terbalik, Mas Keren baru melihat botol minuman tersebut dan berkata, “Tapi ini Coca-Cola.”

 

Hasil Wawancara

Disesuaikan dengan target market dari Coca-Cola Zero untuk anak muda yang berusia 20-29 tahun, maka penulis melakukan wawancara singkat dengan tiga orang anak muda yang penulis anggap mewakili dari target market Coca-Cola Zero. Berikut ini adalah ringkasan hasil wawancara:

 

Responden 1

Responden 2

Responden 3

Nama

Alfian

Luqman

Hadean

Umur

29

25

24

Pekerjaan

Mahasiswa dan Karyawan

Karyawan Swasta

Mahasiswa

Tahu tentang Coca-Cola Zero

Iklan di TV

Promosi dari SPG di Carrefour

Iklan di TV

Alasan mengkonsumsi Coca-Cola Zero

Hanya ingin tahu tentang Coca-Cola Zero, tidak begitu suka soft drink karena bukan minuman yang sehat

Ingin tahu tentang Coca-Cola Zero, memang suka dengan minuman Coca-Cola

Hanya ingin tahu tentang Coca-Cola Zero, tidak begitu suka soft drink karena bukan minuman yang sehat

Komentar tentang konsep iklan TV Coca-Cola Zero

Biasa saja

Lumayan kreatif, karena tidak langsung menyuruh orang minum Coca-Cola Zero, tapi melalui cerita

“Garing”, tidak sesuai dengan culture Indonesia

 

            Dari hasil wawancara di atas dapat kita lihat bahwa dua dari tiga orang responden mengaku tahu tentang Coca-cola Zero dari iklan di televisi, sedangkan satu orang responden pada awalnya mengetahui dari SPG di sebuah hypermarket, setelah itu baru melihat iklannya di televisi.

Setelah mengetahui adanya Coca-Cola Zero ini, dua orang responden yang mengkonsumsinya hanya didasarkan pada rasa ingin tahu dari produk Coca-Cola ini, sedangkan 1 responden lain selain rasa ingin tahu, ia juga meminumnya karena sudah loyal dengan merek Coca-Cola itu sendiri. Dari wawancara ini penulis menemukan bahwa anak muda masa kini meskipun mereka hidup di kota besar, mereka cenderung masih aware kepada kesehatan. Mereka tahu meskipun Coca-Cola Zero menjanjikan produk yang bebas gula, tapi dalam kandungan Coca-Cola Zero ini ada pemanis buatan, yaitu Natrium Siklamat yang kurang baik bagi kesehatan tubuh. Oleh karena itu, meskipun mereka terkadang minum Coca-Cola, mereka tetap lebih prefer untuk minum minuman ringan lain yang lebih menyehatkan seperti teh botol.

            Sedangkan bagi responden yang memang menyukai soft drink, khususnya dari brand Coca-Cola, ia tetap lebih prefer meminum Coca-Cola Classic daripada Coca-cola Zero. Hal ini dikarenakan menurutnya rasanya ternyata berbeda dengan Coca-Cola Classic, berbeda dengan yang dijanjikan pada iklannya bahwa Coca-Cola Zero tetap “Great Coca-cola Taste”.

            Untuk konsep iklannya sendiri, konsumen akan cukup mudah memahami iklan ini, bahwa Coca-Cola meluncurkan produk baru bernama Coca-Cola Zero yang tidak mengandung gula dan menjanjikan rasa yang sama dengan Coca-Cola Classic. Karena Coca-Cola merupakan brand yang sudah kuat, maka banyak konsumen yang membelinya karena ada brand Coca-Cola itu sendiri (brand extension) yang mengeluarkan Coca-Cola Zero. Jadi, meskipun menurut responden iklannya biasa saja dan tidak membuat sesuatu yang berkesan di benak mereka, mereka tetap ingin untuk mencoba produk baru ini.

18
Jun
08

Consumer Insight Print Ad Braun Buffel

Braun Buffel

Braun Buffel telah dikenal di Indonesia sebagai produk premium dengan harga yang tentu saja tidak bisa dibilang murah. Braun Buffel hanya terdapat eksklusif di butik-butik atau department store tertentu di pusat perbelanjaan premium untuk SES A atau kelas atas di Jakarta. Untuk itulah dalam mengiklankan produknya, Braun Buffel Indonesia hanya melakukannya di majalah tertentu yang pembacanya juga merupakan target market bagi produk mereka, misalnya adalah majalah Cosmopolitan Indonesia. Halaman berikutnya adalah contoh iklan Braun Buffel yang penulis ambil di majalah Cosmopolitan Indonesia edisi Mei 2008.

 

Print Ad Braun Buffel

            Majalah Cosmopolitan Indonesia yang mengusung taglineFun Fearless Female”, adalah majalah bagi para wanita dewasa Indonesia yang modern, dinamis, dan mandiri. Hal ini dapat dilihat dari content majalahnya seputar masalah lifestyle, fashion, beauty, pekerjaan, relationship, sampai dengan sex. Braun Buffel yang mengeluarkan produknya bagi pria dan wanita, merasa tepat untuk beriklan di majalah ini, karena produk Braun Buffel dengan kualitas yang premium, pastinya ingin dimiliki oleh konsumen dengan selera premium juga yang mengandalkan kualitas, fungsionalitas, dan prestige dari suatu produk tas.

            Iklan Braun Buffel di halaman sebelumnya adalah salah satu seri iklan Braun Buffel di majalah Cosmopolitan. Penulis tertarik untuk mengangkatnya sebagai bahan riset tentang “Consumer Insight” karena gambar iklan yang ditampilkan tidak lazim layaknya iklan-iklan tas lain, dimana biasanya model iklan mengenakan tas yang diiklankan. Alih-alih menggunakan konsep iklan seperti itu, Braun Buffel menggunakan konsep iklan dengan gambar model iklan dalam posisi yang unik.

            Penulis telah melakukan wawancara ringan kepada beberapa responden yang telah diperlihatkan print ad dari Braun Buffel tersebut. Tipe responden yang penulis wawancara ada yang memang merupakan target market dari Braun Buffel, dan ada pula yang bukan merupakan target market dari Braun Buffel. Berikut ini adalah ringkasan hasil wawancara:

Profil responden:

Andini  : wanita, 23 tahun, mahasiswi MMUI

Eka      : wanita, 23 tahun, karyawan swasta

Dewi     : wanita, 43 tahun, ibu rumah tangga

Tinur    : laki-laki, 24 tahun, mahasiswa MMUI

Question and Answer:

  1. Apa pendapat anda ketika melihat iklan ini?

Andini: “Pertama kali saya kira ini iklan pakaian dalam untuk pria dan wanita. Pria memegang celananya seketika juga memeluk bagian kepala wanita. Tetapi, tampak jelas di sampingnya ada sebuah tas merek dari Jerman.”

Eka: “Sangat berciri khas iklan Eropa, karena ada unsur sensualitas yang menurut saya sering dipakai pada iklan-iklan di Eropa untuk menjual suatu produk. Tas ini terlihat mahal dan ekskulusif.”

Dewi: “Tidak terlihat match antara gambar iklan dengan produk tas yang dituju.”

Tinur:Uhuuuy.. iklannya!”

  1. Menurut anda, apa maksud dari gambar di iklan ini?

Andini: “Iklan ini mungkin seakan-akan ingin mengganggu pembaca untuk melihat dua pria dan wanita berpelukan. Tidak sesuai dengan image Braun Buffel yg sopan dan elegan, Ini posisi pria dan wanitanya tidak jelas sedang tidur atau berdiri.”

Eka: “Ga kebayang hubungan antara pose model iklan itu dengan tas.”

Dewi: “Tidak menangkap maksudnya. Andaikata tidak ada model manusia di iklan itu juga tidak apa-apa.”

Tinur:Gambar ini memperlihatkan kepada pembacanya tentang kekuatan (diperlihatkan pada gambar pria wanitanya) dan eksklusifitas (yang terlihat dari merek) dan elegan(dilihat dari produknya).”

  1. Apakah anda menyukai iklan ini?

Andini: “Tidak. Kurang pas dengan modelnya.”

Eka: “Tidak suka.”

Dewi: “Suka, karena bila iklan ini dilihat secara keseluruhan, terlihat elegan, tidak norak, dan tidak terlihat vulgar.”

Tinur: “Biasa saja, cukup bagus, pesan yang disampaikan cukup kena. Braun Buffel gitu loooh!”

 

Dari hasil wawancara tersebut, dapat kita lihat bahwa tiga dari empat responden mengatakan tidak dapat menangkap pesan dari dua orang model yang berfoto. Saat melihat iklan tersebut, mereka hanya dapat menangkap bahwa tas Braun Buffel mengeluarkan produk baru, tapi mereka tidak melihat adanya hubungan antara model iklan, dan gambar iklan yang ditampilkan. Mungkin yang dapat menangkap kira-kira maksud dari iklan tersebut adalah Tinur yang mengasosiasikan kekuatan pada merek tas Braun Buffel itu. Asosiasi kekuatan tas itu dilihat pada kekuatan model pria untuk menggendong wanita pada pahanya. Mungkin ini menggambarkan bahwa tas Braun Buffel ini memiliki kekuatan dan ketahan pada produknya.

Iklan ini kemungkinan besar memang tidak dibuat di Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Eka bahwa iklan ini terlihat berkesan “sangat Eropa”, mungkin hal ini pulalah yang membuat sebagian besar responden tidak menyukai iklan ini. Bagi orang Asia, khususnya Indonesia yang masih memegang adat ketimuran yang cukup tinggi, mereka kurang menyukai iklan ini, meskipun para responden ini tinggal di Jakarta yang sudah merupakan kota metropolitan dengan gaya hidup yang modern. Mereka menganggap iklan yang menampilkan dua orang laki-laki dan perempuan yang berpelukan dengan pakaian yang minim terlihat kurang sopan.

Bagi penulis sendiri, bila dilihat secara keseluruhan, iklan ini terlihat elegan, sesuai dengan image Braun Buffel sebagai produk premium. Tetapi penulis tidak suka dengan wanita dengan posisi yang aneh dalam balutan pakaian yang minim bersama laki-laki, karena menurut penulis sedikit merendahkan kemandirian wanita. Saran dari penulis kepada pembuat iklan Braun Buffel Indonesia, ada banyak cara untuk menampilkan kesan elegan pada produk tas, karena semua orang sudah mengetahui Braun Buffel adalah produk yang sudah dipercaya kualitasnya. Kesan elegan sebaiknya dibuat tanpa ada unsur merendahkan wanita. Bila ingin menambahkan unsur sensualitas, sebaiknya hindari wanita yang berpakaian minim bersama laki-laki, karena pasti ada banyak cara untuk menampilkan kesan sensual tanpa model dengan pose seperti itu.

 




Kategori

 

Juni 2012
S S R K J S M
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Follow Shine on Tweeter

Blog Stats

  • 27,830 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.